A.
Psikologi Agama dan Cabang Psikologi
Para
ilmuan barat menganggap filsafat sebagai induk dari segala ilmu. Sebab filsafat
merupakan tempat berpijak kegiatan keilmuan (Jujun S. Suriasumanteri, 1990:22).
Dengan demikian, psikologi termasuk ilmu dari cabang filsafat. Dalam kaitan
ini, psikologi agama dan cabang psikologi yang lainnya tergolong disiplin ilmu
ranting dari filsafat.
Sebaliknya
jika psikologi dinilai sebagai disiplin ilmu yang otonom yang kemudian darinya
berkembang berbagai disiplin ilmu cabangnya, maka psikologi agama dapat disebut
sebagai cabang psikologi. Oleh karena itu, sebutan psikologi agama sebagai ilmu
cabang dari psikologi agaknya dapat diterima. Sehubungan dengan hal itu, maka
pemahaman psikologi agama dan cabang psikologi seperti yang dimaksut dengan
pembahasan berikut adalah menurut pendekatan terakhir.